KOMUNISME
Komunisme adalah sebuah ideologi. Penganut paham ini
berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifesto politik yang pertama
kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa
kini)
dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah
menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik.
Komunisme pada awal kelahiran adalah
sebuah koreksi terhadap paham kapitalisme di awal abad
ke-19,
dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari
produksi dan yang lebih
mementingkan kesejahteraan ekonomi. Akan tetapi, dalam
perkembangan selanjutnya, muncul beberapa faksi internal dalam komunisme
antara penganut komunis teori dan komunis revolusioner yang masing-masing
mempunyai teori dan cara perjuangan yang berbeda dalam pencapaian masyarakat sosialis untuk menuju dengan
apa yang disebutnya sebagai masyarakat utopia.
Ide
dasar
Istilah komunisme sering
dicampuradukkan dengan komunis internasional. Komunisme atau Marxisme adalah ideologi
dasar yang umumnya digunakan oleh partai
komunis
di seluruh dunia. sedangkan komunis internasional merupakan racikan ideologi
ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut "Marxisme-Leninisme".
Dalam komunisme perubahan sosial harus
dimulai dari pengambil alihan alat-alat produksi melalui peran Partai Komunis.
Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih
dikenal dengan proletar (lihat: The Holy Family [1]), namun
pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil dengan melalui perjuangan partai.
Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial
hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro.
Komunisme sebagai anti-kapitalisme
menggunakan sistem partai komunis sebagai alat pengambil alihan kekuasaan dan sangat
menentang kepemilikan akumulasi modal atas individu. pada prinsipnya semua
adalah direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu, seluruh
alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara
merata, Komunisme memperkenalkan penggunaan sistim demokrasi keterwakilan yang
dilakukan oleh elit-elit partai komunis oleh karena itu sangat membatasi
langsung demokrasi pada rakyat yang bukan merupakan anggota partai komunis
karenanya dalam paham komunisme tidak dikenal hak perorangan sebagaimana
terdapat pada paham liberalisme.
Secara umum komunisme berlandasan pada
teori Materialisme
Dialektika
dan Materialisme Historis oleh karenanya tidak
bersandarkan pada kepercayaan mitos, takhayul dan agama dengan demikian tidak
ada pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa "agama dianggap
candu" yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari
pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari
hal yang nyata (kebenaran materi).
Komunis Internasional
Komunis internasional sebagai teori
ideologi mulai diterapkan setelah meletusnya Revolusi
Bolshevik
di Rusia tanggal 7
November
1917. Sejak saat itu
komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke negara lain.
Pada tahun 2005 negara yang masih
menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos. Komunis
internasional adalah teori yang disebutkan oleh Karl Marxis.
Maoisme
Ideologi komunisme di Tiongkok agak
lain daripada dengan Marxisme-Leninisme yang diadopsi bekas Uni
Soviet.
Mao Zedong menyatukan berbagai filsafat kuno dari Tiongkok dengan Marxisme yang
kemudian ia sebut sebagai Maoisme. Perbedaan mendasar dari komunisme Tiongkok dengan
komunisme di negara lainnya adalah bahwa komunisme di Tiongkok lebih mementingkan
peran petani daripada buruh. Ini disebabkan karena kondisi Tiongkok yang khusus
di mana buruh dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kapitalisme.
Indonesia dan
komunisme
Indonesia pernah menjadi salah
satu kekuatan besar komunisme dunia. Kelahiran PKI pada tahun 1920an adalah
kelanjutan fase awal dominasi komunisme di negara tersebut, bahkan di Asia.
Tokoh komunis nasional seperti Tan
Malaka
misalnya. Ia menjadi salah satu tokoh yang tak bisa dilupakan dalam perjuangan
di berbagai negara seperti di Cina, Indonesia, Thailand, dan Filipina. Bukan seperti Vietnam yang mana perebutan
kekuatan komunisme menjadi perang yang luar biasa. Di Indonesia perubuhan
komunisme juga terjadi dengan insiden berdarah dan dilanjutkan dengan pembantaian yang banyak
menimbulkan korban jiwa. Dan tidak berakhir disana, para tersangka pengikut
komunisme juga diganjar eks-tapol oleh pemerintahan Orde
Baru
dan mendapatkan pembatasan dalam melakukan ikhtiar hidup mereka.
Sejarah Komunisme Di
Indonesia
Komunisme di Indonesia memiliki sejarah
yang kelam, kelahirannya di Indonesia tak jauh dengan hadirnya para orang-orang
buangan dari Belanda ke Indonesia dan mahasiswa-mahasiswa jebolannya yang beraliran kiri.
Mereka di antaranya Sneevliet, Bregsma, dan Tan
Malaka
(yang terahir masuk setelah SI Semarang sudah terbentuk). Alasan kaum pribumi
yang mengikuti aliran tersebut dikarenakan tindakan-tindakannya yang melawan
kaum kapitalis dan pemerintahan, selain itu iming-iming propaganda PKI juga
menarik perhatian mereka. Gerakan Komunis di Indonesia diawali di Surabaya, yakni di dalam
diskusi intern para pekerja buruh kereta api Surabaya yang dikenal dengan nama VSTP. Awalnya VSTP hanya
berisikan anggota orang Eropa dan Indo Eropa. saja, namun setelah berkembangnya waktu,
kaum pribumi pun ikut di dalamnya. Salah satu anggota yang menjadi besar adalah
Semaoen kemudian menjadi
ketua SI Semarang. Komunisme Indonesia mulai aktif di Semarang, atau sering disebut
dengan Kota Merah setelah menjadi basis PKI di era tersebut. Hadirnya ISDV dan
masuknya para pribumi berhaluan kiri ke dalam SI (Sarekat
Islam)
menjadikan komunis sebagian cabangnya karena hak otonomi yang diciptakan
Pemerintah Hindia Belanda atas organisasi lepas menjadi salah satu ancaman bagi
pemerintah. ISDV menjadi salah satu organisasi yang bertanggung jawab atas
banyaknya pemogokan buruh di Jawa. Konflik dengan SI pusat di Yogyakarta membuat personel
organisasi ini keluar dari keanggotaan SI, setelah disiplin partai atas usulan Haji
Agus Salim
disahkan oleh pusat SI. Namun ISDV yang berganti nama menjadi PKI semakin kuat saja
dan di antara pemimpin mereka dibuang keluar Hindia
Belanda.
Kehancuran PKI fase awal ini bermula dengan adanya Persetujuan Prambanan yang memutuskan akan
ada pemberontakan besar-besaran di seluruh Hindia Belanda. Tan
Malaka
yang tidak setuju karena komunisme di Indonesia kurang kuat mencoba
menghentikannya. Namun para tokoh PKI tidak mau menggubris usulan itu kecuali
mereka yang ada di pihak Tan Malaka. Pemberontakan itu terjadi pada tahun 1926-1927 yang berakhir dengan
kehancuran PKI dengan mudah oleh pemerintah Hindia Belanda. Para tokoh PKI
menganggap kegagalan itu karena Tan Malaka mencoba menghentikan pemberontakan
dan memengaruhi cabang PKI untuk melakukannya.
Gerakan PKI lahir pula pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia yang diawali oleh
kedatangan Muso secara misterius
dari Uni
Sovyet
ke Negara Republik (Saat itu masih beribu kota di Yogyakarta). Sama seperti Soekarno dan tokoh pergerakan
lain, Muso berpidato dengan lantang di Yogyakarta dengan kepercayaannya yang
murni komunisme. Disana ia juga mendidik calon-calon pemimpin PKI seperti D.N.
Aidit.
Musso dan pendukungnya kemudian menuju ke Madiun. Disana ia
dikabarkan mendirikan Negara Indonesia sendiri yang berhalauan komunis. Gerakan
ini didukung oleh salah satu menteri Soekarno, Amir
Syarifuddin
yang tidak jelas ideologinya. Divisi Siliwangi akhirnya maju dan mengakhiri
pemberontakan Muso ini. Beberapa ilmuwan percaya bahwa ini adalah konflik
intern antarmiliter Indonesia pada waktu itu.
Pasca Perang Kemerdekaan Indonesia tersebut PKI
menyusun kekuatannya kembali. Didukung oleh Soekarno yang ingin
menyatukan semua aspek masyarakat Indonesia saat itu, dimana antar ideologi
menjadi musuh masing-masing, PKI menjadi salah satu kekuatan baru dalam politik
Indonesia. Permusuhan itu tidak hanya terjadi di tingkat atas saja, melainkan
juga di tingkat bawah dimana tingkat anarkisme banyak terjadi
antara tuan tanah dan para kaum rendahan. Namun Soekarno menjurus ke kiri dan
menganak-emaskan PKI. Akhirnya konflik dimana-mana terjadi. Ada suatu teori
bahwa PKI dan militer yang bermusuhan akan melakukan kudeta. Yakni PKI yang
mengusulkan Angkatan Perang Ke 5 (setelah AURI, ALRI, ADRI dan Kepolisian) dan
isu penyergapan TNI atas Presiden Soekarno saat ulang tahun TNI. Munculah
kecurigaan antara satu dengan yang lain. Akhirnya dipercaya menjadi sebuah
insiden yang sering dinamakan Gerakan 30 September.
Ada kemungkinan Indonesia menjadi negara
komunis andai saja PKI berhasil berkuasa di
Indonesia. Namun hal tersebut tidak menjadi kenyataan setelah terjadinya kudeta
dan peng-kambing hitaman komunisme sebagai dalang terjadinya insiden yang
dianggap pemberontakan pada tahun 1965 yang lebih dikenal
dengan Gerakan 30 September. Hal ini juga membawa kesengsaraan
luar biasa bagi para warga Indonesia dan anggota keluarga yang dituduh komunis
meskipun belum tentu kebenarannya. Diperkirakan antara 500.000 sampai 2 juta
jiwa manusia dibunuh di Jawa dan Bali setelah peristiwa Gerakan 30 September. Hal ini merupakan halaman terhitam
sejarah negara Indonesia. Para tertuduh yang tertangkap kebanyakan tidak
diadili dan langsung dihukum. Setelah mereka keluar dari ruang hukuman mereka,
baik di Pulau Buru atau di penjara, mereka tetap diawasi
dan dibatasi ruang geraknya dengan penamaan Eks Tapol.
Semenjak jatuhnya Presiden Soeharto, aktivitas
kelompok-kelompok komunis, marxis, dan haluan kiri lainnya mulai kembali aktif
di lapangan politik Indonesia, walaupun belum boleh mendirikan partai karena
masih dilarang oleh pemerintah.
Komunisme di
Indonesia
Era pre-Perang
Kemerdekaan RI
Pascaperang Perang
Kemerdekaan RI
Setelah Dekrit Presiden pada 5 Juli
1959, politik luar negeri Indonesia cenderung lebih condong ke Blok Timur (Blok
Komunis). Mengapa seperti itu? Karena Indonesia lebih banyak melakukan kerja
sama dengan negara komunis seperti Uni Soviet, Kamboja, Vietnam, RRC, maupun
Korea Utara. Berikut ini adalah langkah-langkah politik luar negeri Indonesia
pada masa Demokrasi Terpimpin: Presiden Soekarno menyampaikan pandangan politik
dunia yang berlawanan, yaitu OLDEFO (Old Established Forces), dan NEFO (New
Emerging Forces), Indonesia membentuk Poros Jakarta-Peking dan Poros
Jakarta-Phnompenh-Hanoi-Peking-Pyongyang yang membuat Indonesia termasuk dalam
Negara Blok Timur, Konfrontasi dengan Malaysia yang berujung dengan keluarnya
Indonesia dari PBB.
Apakah Komunisme Telah
Mati?
Banyak orang yang mengira komunisme
'mati' dengan bubarnya Uni Soviet di tahun 1991, yang diawali dengan
keputusan Presiden Mikhail
Gorbachev.
Namun komunisme yang murni belum pernah terwujud dan tak akan terwujud selama
revolusi lahir dalam bentuk sosialisme (Uni Soviet dan negara-negara komunis
lainnya). Dan walaupun komunis sosialis hampir punah, partai komunis
tetap ada di seluruh dunia dan tetap aktif memperjuangkan hak-hak buruh,
pelajar dan anti-imperialisme. Komunisme secara politis dan ekonomi telah
dilakukan dalam berbagai komunitas, seperti Kepulauan Solentiname di Nikaragua.
Seperti yang digambarkan Anthony
Giddens,
komunisme dan sosialisme sebenarnya belum mati. Ia akan menjadi hantu yang
ingin melenyapkan kapitalisme selamanya. Saat ini di banyak negara, komunisme
berubah menjadi bentuk yang baru. Baik itu Kiri
Baru
ataupun komunisme khas seperti di Kuba dan Vietnam. Di negara-negara
lain, komunisme masih ada di dalam masyarakat, namun kebanyakan dari mereka
membentuk oposisi terhadap pemerintah yang berkuasa.
Aliran Komunis: Sejarah Dan Penjara
oleh: Jacques Leclerc
oleh: Jacques Leclerc
Pada tanggal 23 Mei l920, Indische
Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang didirikan di Semarang sepuluh
tahun sebelumnya, berganti nama menjadi Perserikatan Komunis di India
(PKI). PKI merupakan organisasi pertama di Asia di luar kekaisaran
Rusia, menggunakan kualifikasi "Komunis." Partai Komunis Cina sendiri
baru didirikan setahun kemudian, yakni pada bulan Juli l92l. Orang yang
ditugaskan oleh Internationali Comuniste untuk membantu Partai baru
tersebut adalah Henk Sneevliet, seorang organisator ISDV Belanda, yang pada
tahun l9l8 diburu-buru oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda karena
kegiatan-kegiatan revolusionernya.
Kata "perserikatan" dalam bahasa
Melayu merupakan terjemahan dari kata Belanda "Partij." Sedang nama
PKI itu sendiri, menurut dokumen awal dari organisasi tersebut, merupakan
kependekan dari bahasa Melayu "Perserikatan Komunis di India,"
yang bila di Belandakan menjadi "Partij der Kommunisten in Indie."
Pada tahun l927, kata "perserikatan" digunakan oleh PNI,
sebelum menetapkan namanya menjadi Partai Nasional Indonesia.
Dalam konggres bulan Juni l924 di
Weltevreden (sekarang Jakarta Pusat), Perserikatan Komunis di India diubah
namanya menjadi Partai Komunis Indonesia, ini merupakan pertama kalinya di
Hindia Belanda, sebuah organisasi memakai kata "Indonesia".
Sebetulnya sejak tahun l922 sudah terdapat sebuah organisasi politik yang
bernama Indonesiche Vereeniging, yang kemudian diterjemahkan menjadi
Perhimpunan Indonesia. Tapi organisasi tersebut berada di Nederland, bukan di negeri
jajahan.
PKI juga merupakan organisasi
politik Indonesia pertama yang menggunakan konsepsi "Partai" dalam
nama resminya, dalam bahasa Melayu. Pergantian kata "perserikatan"
menjadi "Partai," merupakan bagian dari konflik terbuka sejak tahun
l922 di dalam tubuh Sarekat Islam, antara militan pro komunis dan yang
menentangnya. Sarekat Islam, sejak awal tahun l9l0 dan di sepanjang
awal tahun l920, merupakan suatu gerakan sosial politik yang berpengaruh, suatu
gerakan yang pertama kali mengambil corak sosial-politik di Indonesia, di mana
organisasinya tidak lagi membatasi dalam lingkaran tertentu, baik secara
sosiologis maupun geografis, dan berkembang tidak hanya di Pulau Jawa,
melainkan juga di Sumatera dan kawasan lain. Anggota-anggota ISDV (kemudian
PKI) seringkali merangkap anggota Sarekat Islam. Pada awalnya keanggotaan
rangkap tersebut tidak menimbulkan masalah dan tidak bertentangan dalam hal
agama; lagipula Sarekat Islam tidaklah menjadi lebih atau kurang sekuler pada
saat telah menjadi gerakan massa, Tapi pembengkakan pengaruh ide-ide komunis di
tengah gerakan dan munculnya persaingan guna merebut kepemimpinan, telah
mendorong para pimpinan yang ada, yang khawatir akan kedudukannya, mencoba
menunjukan adanya ketidak sesuaian antara Islam dengan Komunisme, Sambil
menekankan ciri keislaman dari Sarekat Islam, dan menganggap hal yang mustahil
anggota suatu organisasi Islam merangkap menjadi anggota organisasi Komunis.
Untuk menegaskan perbedaan tersebut, para pemimpin Sarekat Islam kemudian mengusulkan
agar gerakan SI dianggap sebagai sebuah Partai—dalam pengertian Belanda
"Partij"—dan melarang anggotanya menjadi anggota partai yang lain
pada saat yang bersamaan. Dari sini nampak bahwa kata "partij"
mengandung arti khusus yang tidak dipunyai oleh kata "sarekat", yang
tidak cukup jelas dalam mencerminkan pengertian "perserikatan":
Organisasi dengan kata Partai memiliki kelainan, yakni kekhususan bahwa
seseorang tidak dapat menjadi anggota banyak partai pada saat yang sama, padahal
ia boleh menjadi anggota banyak "sarekat" atau anggota suatu
"sarekat" dan suatu "Partai." Jadi ketika PKI memilih kata
"Partai," ini merupakan pernyataan adanya sifat eksklusif dari
kelompok tersebut, dimana berlaku berbagai peraturan ketat organisasi serta
disiplin tertentu. Sedangkan SI sendiri, baru pada tahun l927 menyepakati nama
Partai Sarekat Islam; namun pada saat itu, organisasi tersebut sudah tidak lagi
menampilkan gambaran sebagai sebuah organisasi yang kuat seperti sepuluh tahun
sebelumnya.
Setelah terjadi perdebatan tentang konsepsi
"partai" dalam SI, di kalangan PKI kemudian timbul pemikiran tentang
peranan Partai itu sendiri dan bentuk macam apa yang harus diambil supaya
peranan tersebut dijalankan dengan baik. Jadi bukan hanya terbatas berbicara
dengan rakyat, mengucapkan pidato persiapan konggres Juni l924, atau bukan lagi
hanya meyakinkan mereka, tapi juga menyatukan keyakinan tersebut dalam
perbuatan serta mempersatukan segenap kekuatan perubahan dalam suatu organisasi
yang mendasarkan kekuatannya pada disiplin, yang berbicara hanya dalam satu
bahasa dan bertindak seperti seorang manusia.1)
Tidak lagi hanya menyemaikan ide-ide tapi harus
dijaga agar ide-ide tersebut bisa menjadi buah, lalu berkembang menjadi tekad,
untuk itu diperlukan sebuah organisasi yang mampu melaksanakan tekad tersebut,
menjadi suatu perubahan politik, yang membangkitkan dan dapat menjadi pemimpin
dari gerakan yang dilahirkan oleh tekad tersebut.Kebutuhan adanya suatu
organisasi yang lebih kokoh, lebih kuat dan lebih disiplin untuk menjamin
keberhasilan peranannya sebagai organisasi pelopor, menyebabkan
ditanggalkannya kata "perserikatan" yang melekat pada awal kelahiran
PKI, pada masa kegagapan dan belajar, menjadi sebuah "Partai."Partai
besar yang bersatu juga diperlukan agar Partai bisa bertahan dari tekanan
pemerintah Hindia Belanda yang semakin lama, semakin sewenang-wenang. Ruth
McVey menulis bahwa seorang pemimpin partai dijamin akan dipenjarakan selama
beberapa bulan dalam setiap tahunnya.2)
Suatu peristiwa genting pernah terjadi pada
tahun l923, setelah kegagalan aksi pemogokan yang cukup besar di jawatan kereta
api dan diusirnya Semaun--Sekjen PKI sejak l920 dan sekjen Sindikat Buruh
Kereta Api--keluar negeri. Di Solo dan Semarang terjadi serangkaian sabotase
dengan "bom". Orang-orang Komunis segera dituduh sebagai penanggung
jawab. Tempat pertemuan mereka digeledah dan sejumlah pimpinannya ditangkap.
Tapi tidak ditemukan bukti-bukti bahwa partai terlibat dalam
peristiwa pem-bom-an tersebut. Namun dua dari pimpinan yang dipenjarakan itu
diusir dan sejumlah lainnya di penjarakan selama empat bulan.3)
Dengan demikian,disamping terdapat hal-hal yang
dilakukan guna memajukan nasib kaum buruh, juga terjadi aksi-aksi yang membuat
partai mundur, ada tindakan yang memperjuangkan kepentingan rakyat dan ada pula
tindakan yang hanya melayani kepentingan polisi. Oleh karena itu harus dapat
dibedakan antara aksi-aksi yang berguna dengan tindakan yang memperkeruh
suasana. Bagi pimpinan partai, perkembangan tersebut berarti harus dibenahinya
pendidikan politik anggota, mereka harus mampu membedakan antara aksi yang
benar dengan aksi yang keliru, terutama kemampuan mereka untuk menghindari
jebakan polisi, yakni yang berupa "provokasi." Massa juga harus
diperingatkan tentang hal ini. Polisi sangat berkepentingan untuk meyakinkan
bahwa "revolusi" itu sama dengan "peledakan bom," karena
hal tersebut akan membuat golongan revolusioner terkucil dari massa 'rakyat',
polisi juga sangat berkepentingan untuk membuat "provokasi" sabotase
dengan "bom," untuk kemudian menuduh PKI sebagai dalangnya, agar ada
alasan yang baik untuk menindasnya. Partai, militansi dan kawan-kawan separtai
harus senantiasa waspada, dan tidak ada kewaspadaan tanpa disiplin; sekali
lagi, masalah disiplin ini menjadi tuntutan utama. Dengan demikian tanggung
jawab partai makin besar dan peranan partai dalam perjuangan anti kolonial
semakin meningkat. Akibatnya tekanan dari musuhpun semakin keras.
Di depan konggres partai, Juni l924, Darsono,
yang pernah menjadi tangan kanan Semaun, menyatakan bahwa, "Partai tanpa
disiplin adalah ibarat tembok tanpa semen,mesin tanpa baut"4)
dan ia juga memperingatkan tentang bahaya konsepsi "avonturistis"
dalam sebuah perubahan politik atau "revolusi." Juga harus dipahami
adanya hukum perkembangan sejarah, untuk membantu kemajuannya (partai - penj).
Tapi sejarah itu tak bisa dimajukan lebih cepat dengan memperkosanya. Suatu
dokumen berjudul "Manifes Komunis Indonesia" yang bertanggal di bulan
pertama pendirian PKI telah menyatakan:
"Kaum komunis dan partainya tidak bisa bikin
pemberontakan. Komunisme tergantung dari keadaan pergaulan hidup dan ia hanya
bisa bekerja menurut keadaannya. Kewajiban kaum komunis dan partainya yaitu
memimpin pergerakan kaum buruh supaya dalam pertentangannya tidak demikian banyak
ada jiwa manusia yang dikorbankan percuma. Kewajiban kaum komunis yaitu membawa
pergerakan kaum buruh di jalan-jalan yang baik dan mudah. Fihak sana mendakwa
kita hendak membikin revolusi. Kita menjawab bahwa kita tidak membikin
revolusi, tetapi kita yakin-yakin benar,bahwa revolusi dunia itu akan pecah
sendiri (...). Kaum komunis dan partainya hanya bisa memudahkan lahirnya
dunia baru, lain tidak. Partai komunnis yaitu dukun beranak bagi dunia
baru yang akan lahir itu"5)
Dengan dipindahkannya kedudukan partai dari
basis awalnya di Semarang ke Jakarta, kongres telah melemgkapkan pengertian
PKI, dalam nama dan peranannya sebagai suatu organisme yang matang, mampu
menantang kekuasaan, bahkan dipusatnya sendiri, di mana kekuasaan itu bercokol
dan menindas, mengawasi dan menghukum.
Peristiwa-peristiwa dari bulan November
l926-Januari l927 serta serangkaian demonstrasi yang tak terkendali, yang dapat
menimbulkan perlawanan umum terhadap diktaktor kolonial, menunjukan, bahwa
rencana partai tentang tanggung jawab dan disiplin yang dibahas dalam konggres
Juni l924, tetap menjadi cita-cita yang belum bisa dicapai. Pimpinan partai
yang berantakan akibat tekanan yang terus menerus, tak mampu lagi menanggulangi
berbagai usul dari kader-kader regional yang cenderung menilai kekuatan mereka
secara berlebihan.
Setelah berbagai kejadian, yang menyebabkan
dilarangnya PKI dan ditangkapnya l3.000 orang, dengan 5.000 diantaranya diadili
dan dihukum (l6 orang diantaranya dihukum mati dan akan digantung), serta
sekitar l.000 orang dideportasikan tanpa diadili ke Irian Barat. Dalam suatu
kamp konsentrasi yang khusus dibuat untuk itu, telah mengungkapkan sampai di
mana raison d'etre PKI dan raison d'etre Partai Komunis di Indonesia,
spesifikasi suatu Partai yang menggunakan kata "komunis" untuk
membedakan diri, tidak begitu mudah dipahami oleh golongan komunis itu sendiri.
Para pendiri PKI itu sendiri—yaitu pimpinan tingkat pertama, yang beberapa
diantaranya ada di luar negeri dan berhubungan dengan gerakan komunis Internasional—yang
paling cepat menguburkan PKI sebagai suatu organisasi.
Mula-mula adalah Semaun. Sejak ia diburu-buru di
Indonesia, ia lalu sering berada di Nederland, berhubungan erat dengan para
mahasiswa pendiri Perhimpunan Indonesia (PI), dan tentu saja dengan orang-orang
Komunis Belanda. Semaun menjadi perantara antara kedua grup tersebut, bersamaan
dengan kedudukannya sebagai wakil PKI di Eropa dan dalam organisasi
Internationale Communiste. Bulan Desember l926, segera setelah kegagalan
gelombang pemberontakan pertama di Jawa, atas nama PKI, Semaun yang masih
dianggap sebagai pemimpin PKI, menandatangani suatu persetujuan rahasia
dengan ketua PI Moh. Hatta. Dalam persetujuan itu disebutkan bahwa, kaum
komunis Indonesia menyerahkan kepemimpinan gerakan pembebasan Indonesia kepada
PI, yang tadinya dipimpin oleh PKI. Hatta mengatakan:
"Dalam konvensi itu antara lain
disebutkan pengakuan PKI atas kepemimpinan Perhimpunan Indonesia terhadap
gerakan rakyat Indonesia seluruhnya, dan PKI tidak akan mengadakan
oposisi dalam gerakan itu konsekuensi menuju Indonesia merdeka"6)
Karena persetujuan itu bersifat rahasia, maka ia
hanya menjadi tanggung jawab Semaun pribadi dan tidak ada kelanjutannya yang
lebih kongkrit. Tapi persetujuan itu kemudian diumumkan oleh pengadilan
Belanda, setelah penangkapan Hatta dan 3 pimpinan PI lainnya pada bulan
September l927. Pemerintah Belanda hendak menggunakan dokumen tersebut untuk
menunjukan bahwa Perhimpunan adalah suatu organisasi komunis dan subversif,
tapi keempat terdakwa yang diadili dalam bulan maret l928 itu kemudian
dibebaskan. Dan Semaun harus memberi pertanggung jawaban terhadap kawan-kawan
Komunisnya akibat terbongkarnya dokumen tersebut. Pada tanggal l9 Desember
l927, Harian Partai Komunis Belanda memuat suatu komunike yang
ditandatangani Semaun:
"Pers Belanda telah mempublisir suatu
persetujuan yang saya tanda tangani atas nama PKI dan yang ditandatangani
M.Hatta atas nama Perhimpunan Indonesia. Saya mengakui bahwa saya telah
menandatangani persetujuan itu tapi (...) setelah saya pelajari dengan lebih
seksama menurut prinsip-prinsip komunis di satu pihak dan berbagai
peristiwa di Indonesia di lain pihak, saya menyadari bahwa
tandatangan saya itu telah dapat diartikan sebagai pertanda hilangnya independensi
Partai Komunis dan hilangnya kepemimpinan Partai. Berbagai peristiwa telah
menunjukan bahwa kaum komunis di Indonesia, walaupun dikejar-kejar dan
ditindas, tetap melanjutkan perlawanan (...) Juga telah diketahui bahwa
perlawanan nasional yang terjadi, dipimpin oleh Partai Komunis. Sekarang partai
kami telah membayar dengan harga yang mahal (...) tapi kaum buruh (...)
tetap bersimpati terhadap perjuangan besar kami. Kesalahan yang telah saya
lakukan dalam penandatanganan persetujuan itu bukanlah karena saya berpikir bahwa
partai kita harus siap berjuang sepenuhnya dengan golongan nasionalis
revolusioner yang jujur tapi karena saya telah menerima mereka sebagai
pemimpin seluruh gerakan revolusioner nasional (...) Garis kaum komunis
Indonesia, sebagaimana di negara lain, sangat jelas: dalam keadaan
yang bagaimanapun, harus tetap dijaga independensi partai. Ini adalah
prinsip yang mutlak (...) Saya bertanggung jawab sepenuhnya secara
pribadi atas penandatanganan persetujuan tersebut. Ketika saya menandatangani
persetujuan itu, keadaan telah menyebabkan saya tidak dapat menghubungi
kamarad-kamarad saya di PKI dan di Internationale Communiste"
Dalam peristiwa di atas, pentingnya suatu
organisasi yang otonom bagi golongan komunis-lah yang dipertanyakan oleh
Semaun, ketika ia bergabung dengan posisi Hatta. Dalam pikirannya, suatu
partai memiliki nilai yang lain pada saat ia berjuang bagi kemerdekaan
nasional. Harus ada suatu partai yang memimpin perjuangan itu, dan bila Partai
Komunis tak dapat melakukannya, maka kaum komunis menerima kepemimpinan partai
lain.
Tentu saja jalan pikiran Semaun tersebut tak
bisa diterima oleh anggota-anggota militan partai yang berjuang bagi
kelangsungan hidup PKI. Walaupun secara praktis persetujuan Semaun-Hatta itu
tidaklah penting, namun secara teoritis itu sudah cukup untuk meruntuhkan
pengaruh dan kewibawaan Semaun, sebagai pemimpin partai, kendati ia telah
melakukan otokritik.
Seorang pimpinan PKI yang lain, pembantu dekat
Semaun di Indonesia, dan menjadi wakil Internationale Communiste di Asia
Tenggara, yaitu Tan Malaka, yang sebagaimana Semaun, telah menganggap PKI
tidak ada lagi sebagai suatu organisasi. Bersama beberapa pelarian yang
mampu pergi keluar negeri, pada bulan Juni l927 di Bangkok, Tan Malaka
mendirikan suatu partai baru, PARI (Partai Republik Indonesia), sebagai
pengganti PKI.
Nama Partai itu diambil dari sebuah buku Tan
Malaka yang diterbitkan dua tahun sebelumnya "Naar de
Republiek-Indonesia", dan menanggalkan seluruh hubungannya dengan
komunisme. Dokumen-dokumen yang diumumkan PARI menyatakan bahwa partai itu
independen dari Internationale Communiste.7) Tapi hal ini baru
diketahui kemudian, pada tahun l934.
Di Indonesia sendiri, PKI sebagai organisasi,
praktis telah hancur. Masalahnya adalah harus diketahui apakah ia perlu
dibangkitkan kembali, dengan kata lain, harus diketahui apakah Indonesia
masih memerlukan suatu Partai Komunis, atau harus melakukan suatu hal
yang lain. Tapi bagaimanapun, mengingat organisasi Komunis dilarang oleh
Undang-Undang, harus dipikirkan pembentukan suatu partai ilegal, suatu partai
gelap, yang dalam perkembangan gerakan kemerdekaan di Indonesia, merupakan
suatu masalah yang benar-benar baru.
Pada tahun l908, dalam waktu yang hampir
bersamaan, berdirilah sindikat buruh kereta api Vereeniging Van Spoor en
Tramweg Personeel (VSTP), organisasi pertama jenis tersebut yang dibentuk bagi
buruh-buruh non Eropa, dan perkumpulan Budi Utomo (BU), yang dinyatakan oleh
para sejarawan Indonesia sebagai perkumpulan pertama yang "berkesadaran
nasional" dan yang hari lahirnya, 20 Mei, diperingati sebagai "hari
Kebangkitan Nasional." Kemunculan serempak dua jenis organisasi tersebut,
bukanlah karena kebetulan, ia mencerminkan adanya kebutuhan baru bagi berbagai
lapisan masyarakt Hindia Belanda, yang berada di bawah suatu tekanan yang sama;
PKI bisa dianggap sebagai hasil radikalisasi progresif gerakan ganda tersebut,
sebagai jawaban atas pergeseran dan agresi yang diderita rakyat jajahan, dan
itensifikasi serta generalisasi perembesan dan dominasi kolonial pada awal abad
XX.
Gerakan kaum buruh dalam sindikat buruh kereta
api, selain merupakan sindikat (sektor pilot) dalam membangun ekonomi massa,
juga merupakan sindikat pilot yang, di Eropa dan Asia, menyumbangkan sejumlah
kader bagi pusat-pusat gerakan buruh secara umum dan kemudian pada
gerakan komunis yang lahir di depannya. Sneevliet yang datang di
Indonesia pada tahun l9l3, adalah bekas ketua sindikat buruh kereta api Belanda
di tahun l9ll, pada saat ia berangkat dari sana. Selain itu, ia juga seorang penggerak
sayap kiri Partai Sosial Demokrat, partai politik yang menyatakan dirinya
mewakili kepentingan murni gerakan buruh, klas buruh, klas yang paling
baru dan paling terhisap dalam masyarakat modern, klas yang sambil menghentikan
eksploitasi terhadap dirinya, sekaligus membebaskan masyarakat modern
seluruhnya.
Suatu partai yang didasarkan pada
prinsip-prinsip sayap kiri itulah yang kemudian didirikannya di Semarang pada
tahun l9l4 di kantor VSTP, bersama kelompok militan terdidik dari kalangan
sindikat, yang kemudian merancang seluruh kerangka partai yang dinamakan ISDV.
Di antara militan tersebut, terdapat Semaun, karyawan muda di bagian
administrasi jawatan kereta api Surabaya, yang pada tahun l914 menjadi anggota
komite pimpinan VSTP.
Di dalam sejarah sindikalisme di Indonesia,
sindikalisme yang revolusioner yang anti kolonial dan anti
kapitalis—sebagaimana sejarah komunisme di Indonesia—selalu terdapat formatur
yang berasal dari kalangan buruh kereta api. Misalnya Winanta, yang terpilih
menjadi ketua PKI pada konggres bulan Juni l924. Ia adalah karjawan jawatan
kereta api Bandung. Pada masa-masa sulit ditahun l930-an, di mana gerakan
sindikat revolusioner ditindas dan dikejar-kejar, berkat sindikat buruh kereta
apilah maka untuk sementara waktu pimpinan berhasil dipertahankan dengan
dipilihnya Djokosudjono dalam tahun l933 di Surabaya, atau ketika beberapa
tahun kemudian pengacara Hindromartono, pendiri Barisan Kaum Buruh, pada tahun
l938, terpilih menjadi pimpinan. Dua pemimpin terkemuka SOBSI (sentral
Organisasi Buruh Seluruh Indonesia, yang berdiri pada tahun l947), yang
merupakan federasi buruh terbesar sebelum tahun l966, Njono, sang Ketua, dan
Nardjoko, sang wakil, adalah anak-anak buruh kereta api. D.S Atma, Sekjen SOBSI
adalah bekas karyawan di jawatan yang sama.
Melalui gerakan buruh, nilai-nilai yang di Eropa
disebut kiri (nilai-nilai yang prinsip utamanya adalah demokrasi—yang pada saat
yang sama berarti demokrasi politik dan demokrasi sosial) kemudian merasuk ke
dalam masyarakat Indonesia. Dan pada tahun l923 suatu penerbitasn PKI
menggunakan nama "kiri." Di samping VSTP, terdapat persekutuan yang
saling berkait dalam gerakan kebangkitan di segala penjuru dunia dengan model,
pengalaman organisasi dan aksi yang saling mempengaruhi dari suatu negeri ke
negeri lain. BU lebih dari sekedar bentuk pertama partai nasional, ia merupakan
bentuk pertama dari suatu persatuan mahasiswa yang menaruh perhatian terhadap
masalah-masalah sosial. Pada tahun yang sama (l908) terbentuk pula persatuan
mahasiswa Hindia Belanda yang pertama di Belanda. Dari persatuan inilah
kemudian lahir Perhimpunan Indonesia. Tapi dalam tahun-tahun
pertama, persatuan mahasiswa yang ada di Belanda tersebut cukup puas
hanya dengan mencontoh para mahasiswa Belanda dalam "studentcorps"-nya,
dengan kegiatan sosial yang berkisar pada penyelenggaraan pesta, dansa dan
membuat berbagai acara remaja lain yang berkaitan dengan masalah disekitar
mereka.
Jadi bisa dilihat betapa jauhnya langkah para
mahasiswa kedokteran seperti Sutomo, Gunawan Bersaudara dan Tjipto
Mangunkusumodibanding kawan-kawannya yang belajar di Belanda, ketika
mereka mendirikan BU di Jakarta. Padahal mereka berasal dari lingkungan
sosial yang sama: keluarga besar yang bekerja di dalam aparatur administrasi
yang melayani kepentingan Kolonial. Pada masa itu, kebutuhan baru akan
administrasi dan pengawasan (dalam jumlah dan kualitas), yang erat berkaitan
dengan peningkatan kekuasaan kolonial, telah menyebabkan pemerintah Belanda
menerapkan suatu "Belandanisasi" lebih luas bagi lapisan sosial
tersebut, dengan membuka formasi pendidikan model Belanda yang lebih cocok
untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan administrasi, seperti partisipasi (tentu
saja minoritas) dalam Dewan Nasional yang dibentuk saat itu, guna membantu
pemerintah pusat yang kewalahan.
Lapisan sosial tersebut kemudian dihadapkan pada
dua kemungkinan: Menerima "Belandanisasi" dan mencari jalan untuk
lebih terintegrasi dalam masyarakat kolonial, atau menganggap
"Belandanisasi" tersebut bukan sebagai suatu keistimewaan bagi
mereka, tapi sebagai suatu kebutuhan bagi pembangunan Indonesia yang
menyeluruh bagi seluruh rakyat Indonesia, agar ia bisa, dan akhirnya
mempunyai pemerintahan sendiri. Sikap kedua-lah yang dianut oleh para pendiri
BU, sikap anti-elitisme, yang merupakan salah satu pendirian tipikal
golongan "kiri" dalam konsepsi Eropa.
BU, yang oleh para mahasiswanya kemudian
diserahkan pimpinannya kepada generasi orang tua mereka, untuk dijadikan sebuah
persatuan sosio-kultural yang lebih luas, dinamis dan terbuka bagi seluruh
generasi di Jawa, ternyata berkembang secara bertolak belakang, dan hanya dapat
bertahan di Yogyakarta, dengan hanya satu tuntutan di kalangan priyayi.8)
Persatuan rakyat yang lebih luas, yang telah gagal dikembangkan
oleh BU tersebut, kemudian dapat dicapai dengan berdirinya Serekat Islam.
Dari pertemuan antara Sarekat Islam dengan
sindikat buruh VSTP dan Partai sosialis kecil ISDV ditambah dari dorongan ke
"kiri" Sarekat Islam di bawah pengaruh VSTP dan ISDV (dorongan ke
kiri itu bisa dibuktikan dalam evolusi berbagai pernyataan SI pada kongres
tahun l9l6 dan l920) yang dinamis dengan semboyan egalitarian "Sama rata
Sama Rasa", kemudian lahirlah PKI, yang dari ISDV memperoleh basis
kelasnya dan dalam Sarekat Islam mendapat basis massanya.
Kelemahan ekstrim yang beruntun dari kelas buruh
dalam hubungannya dengan rakyat yang lain di Indonesia, seperti di negeri
jajahan lainya, serta negara-negara yang belum berkembang, telah menimbulkan
kesulitan bagi Partai Komunis—yang pada dasarnya hendak menjadi
"Partai Klas Buruh", guna menjadi sebuah Partai massa. Sebab dengan
menjadi sebuah Partai Massa, yakni yang tidak hanya berpengaruh di dalam massa
rakyat, tapi suatu partai yang terbentuk oleh massa itu sendiri, di mana setiap
anggotanya mendaftarkan diri dengan dengan sukarela sambil menyatakan bahwa
politik (yang menentukan masa depan negara dan rakyat) adalah juga urusan
mereka, maka Partai Komunis dapat menunjukan rasa demokrasinya, penghormatan
dari rakyatnya dan kemampuannya memerintah negeri.
Ini berarti, dalam kondisi negara yang belum
berkembang, ia, Partai Buruh, harus membangun diri mulai dari lapisan sosial
non-buruh, yang mungkin bisa menerima teori bahwa klas buruh adalah pionir
dalam pembangunan sosial (teori yang menjadi dasar keberadaan Partai-Partai
Komunis), tapi tidak melihat dengan nyata apa maksudnya dalam kehidupan
sehari-hari dan dalam kegiatan praktis Partai mereka, yakni, kapan harus
mengambil suatu keputusan.
Artikulasi PKI-Sarekat Islam menjadi rumit,
mengingat keanekaragaman gerakan itu dan keanekaragaman pimpinannya; hasil dari
konflik orientasi ini yang kemudian menyebabkan SI merubah dirinya menjadi
Partai, untuk menempatkan diri di dalam tingkat yang sama sebagai organisasi,
seperti PKI.
Dalam dualisme klas/massa meningkat pula
dualisme antara kader/massa atau elite/massa. Ketika konflik dalam SI telah
memecahkan organisasi tersebut, dan sayap kirinya menjadi suatu grup otonom
dengan nama Sarekat Islam Merah (sejak l924, menjadi Sarekat Rakyat),
corak hubungan yang dualistik terjadi antara PKI (organisasi buruh yang
mencapai tingkat "partai") dengan Sarekat Rakyat,
organisasi petani yang dengan partai sebagai organisasi komunis, para
anggotanya tak dapat lagi secara keseluruhan dianggap berpribadi komunis.
PKI memanfaatkan kerangka struktur Sarekat
Rakyat, tapi Sarekat Rakyat sebaliknya dapat juga menggerogoti partai,
membuatnya lumpuh. Hubungan buruh/petani (klas/ massa) menuntut pula agar
budaya politik kaum buruh, yang lahir bersama bentuk-bentuk modern kekuasaan
politik, dapat mengendalikan dan menguasai secara efektif budaya petani,
kerangka petani dalam perwakilan pemerintahan, peranannya dalam perjuangan
melawan pemerintahan, dalam penentuan tuntutan, dalam perlawanan, dalam
revolusi dan akhirnya peranan petani dalam pengambilan kekuasaan. Bila
bentuk-bentuk representasi tersebut masuk dalam strategi model archaique yang
tidak lagi dipakai dalam masyarakat baru, ia dapat memberikan kesempatan, dalam
suatu provokasi, guna menjadi alasan bagi pemerintah yang berkuasa menyerang
Partai Buruh secara keseluruhan. Di sini, disiplin tetap merupakan sebuah
masalah yang besar.
Apa yang terjadi pada akhir tahun l926-awal
l927, merupakan suatu perlawanan umum pertama terhadap diktaktor Belanda,
perjuangan bersenjata pertama yang bertujuan bukan lagi untuk mencegah
kekuasaan kolonial bercokol, tapi untuk menggulingkan dan menggantikannya
dengan suatu kekuasaan baru yang berasal dari rakyat, dari "kaum tak
berpunya," dari "kaum terhisap." Kendati pemberontakan
telah dipersiapkan selama beberapa bulan oleh PKI, pemberontakan itu
sendiri gagal hampir secara menyeluruh, atau tepatnya, ia merupakan kegagalan
total pimpinan partai dan tekanan besar yang memecahkan mereka pada saat
pengambilan keputusan. Gerakan ini hancur dengan cepat. Diawali dengan
pemogokan besar pegawai transpor dan administrasi, khususnya pemogokan buruh
kereta api di tahun l923, yang hampir mendekati gaya pemogokan besar-besaran di
Eropa9) pemogokan tersebut segera dapat digagalkan. Gerakan tahun
l926, berkembang mulai dari kegagalan pemogokan tersebut, yakni dalam situasi
lemahnya PKI dan seluruh gerakan buruh; serta model revolusi petani dalam
sejarah Jawa Barat, pusat utama dari gerakan tahun l926, 10) menjadi
model yang dominan; ia tetap menjadi model bagi berbagai gerakan sosial besar
yang melanda Indonesia sejak proklamasi, "Peristiwa Tiga daerah
l945-l946," atau "peristiwa Madium l948." Ini bukanlah berarti
bahwa model petani hanya diciptakan oleh petani, tapi tradisi perjuangan petani
masih mengilhami secara menentukan atas para pemberontak. Siapakah
pemberontak-pemberontak tersebut? Sebagai misal adalah mereka yang
dideportasikan ke Irian Jaya:
"Pada penghabisan Maret l928 (jadi
tidak termasuk orang-orang yang masih dalam penjara) banyaknya orang
yang diinternir di sana ada 823, diantaranya l5 orang perempuan dan l0
orang Tionghoa, diantaranya 629 dari Jawa, 77 dari Sumatera dan 33 dari
Maluku; diantaranya 9 berumur kurang dari 20 tahun, 422 berumur 20-29 tahun, 8l
berumur 40-49 tahun, diantaranya 383 pegawai rendah, 79 petani, 361 guru, supir
dan pedagang kecil"11)
Jadi pemberontakan tersebut merupakan suatu
gerakan orang-orang bergaji kecil, pegawai rendah dan guru, tanpa kehadiran
petani yang signifakatif, juga tidak ada kaum buruh; tapi masih harus dilakukan
suatu analisa sosiologis terhadap l3.000 orang yang ditangkap untuk mengambil
suatu kesimpulan yang serius. Mereka itu adalah lapisan sosial yang menjadi
tujuan prioritas PKI dengan kaum buruh di sektor produksi dan yang
barangkali, menjadi basisnya. Masalahnya kemudian adalah bagaimana bisa sampai
terbentuk suatu corps politik yang berideologi homogen dan mampu berinisiatif
dalam jangka waktu lama.
Dalam pernyataanya pada bulan desember l927,
yang membatalkan persetujuan rahasia yang telah ditandatanganinya bersama Hatta
setahun sebelumnya, Semaun menunjuk betapa pentingnya menjaga independensi
organisasi partai komunis agar partai bisa menjalankan "peranan
kepemimpinanya".
Pengertian "partai pelopor" atau
"Partai Garda Depan" dalam Partai Komunis, berasal dari peranan motor
klas buruh dalam dinamika sosial, demikian dinyatakan dalam karya-karya
Marxis, guna menunjukan posisi garda depan dari suatu partai politik yang mampu
mengasimilasikan dan memproduksi peranan motor tersebut. Suatu pengertian
global dalam kerangka sosiologis dan historis. Tapi dalam beberapa periode
sejarahnya, PKI telah memahami persoalan tersebut sebagai pengertian mekanis
dan memandangnya sebagai suatu bentuk fatalite politik yang telah menjadikan
PKI sebagai komandan. Dalam arti militer, dari semua kekuatan politik lainnya.
PKI kemudian mencoba menempatkan diri dalam
kedudukan sebagai komandan, ketika Sukarno pada tahun l933 dalam "Mencapai
Indonesia Merdeka" mengidentifikasi, bagi kepentingannya, suatu
"Partai Pelopor" dan "Partai Panglima". Tapi Sukarno tidak
menjelaskan teori sosiologis partai sedikitpun. Ia hanya menyebutkan
suatu teori strategis; rakyat harus memiliki suatu Partai Pelopor, sebagaimana
tentara memerlukan seorang Jenderal, karena tanpa pemimpin tentara akan kalah
sebelum berperang. Dan mengingat Partai sebagai wakil rakyat dan bangsa,
sebagaimana ia menjadi wakil dari nilai-nilai kesatuan, maka ke semuanya itu
hanya bisa dilakukan oleh satu Partai tunggal. Lalu tinggal di cari dalam
kesatuan itu, bagaimana caranya menyatakan suara yang berbeda-beda,
yakni bagaimana menjalankan suatu aparat yang demikian kompleks tanpa perlu
mengurangi jumlah pemimpin dan suatu massa terpimpin. Serta bagaimana di dalam
tubuh satu partai, gambaran suatu bangsa atau negara, perantara antara bangsa
dan negara, terselenggaranya kedaulatan dari bawah yang ke luar dari gaya
militer yang didominir oleh atasan.
PNI, prototype partai yang dikehendaki
Sukarno didirikan pada tahun l933, untuk mengisi kekosongan, akibat larangan de
jure dan keruntuhan de facto PKI. Ada pula PARI yang dari luar negeri dan
dalam klandestin ingin memainkan peranan serupa. Kegagalan PKI agaknya
telah memberikan semangat bagi tumbuhnya partai-partai, dan dalam perkembangan
tersebut, kata "kiri" kemudian dipakai secara lebih luas lagi,
sebagai unsur klasifikasi yang menjadi suatu kebutuhan.
Kata "kiri" dalam perbendaharaan kata
politik internasional, agaknya merupakan konsekuensi dari Revolusi Perancis;
kata "kiri" seringkali digunakan dalam perempat abad XIX, dan
"kiri" menunjuk pada ide-ide wakil rakyat yang duduk
sisebelah kiri Ketua di ruang Parlemen Perancis. Kata
"kiri" juga digunakan, pada masa yang sama, di Inggris,
tanpa dihubungkan dengan letak duduk anggota parlemen di
ruang sidang12)
"Kiri" di Prancis mula-mula didukung
dengan tuntutan "kedaulatan bangsa" melawan "kedaulatan
raja," kedaulatan yang datang dari bawah dan bukan dri atas; ia
mendukung demokrasi melawan otoriterisme, yakni majelis pilihan rakyat melawan
anggota yang diangkat, ia memperjuangkan pemilihan umum melawan pemilihan
censitaire (dimana yang memilih dan yang dipilih harus membayar pajak tertentu
- penj.) dan menentang hak pilih yang hanya diberikan kepada orang-orang kaya.
Pada saat pengertian "kiri" mulai meluas
di Eropa, munculah "sosialisme" dan "komunisme". Lalu
ketiga pengertian tersebut saling kait-mengkait. Di samping golongan kiri
"liberal" terdapat kelompok "ekstrim kiri," sosialis atau
komunis. Namun ketiga-tiganya memiliki ide bersama yang berasal dari Revolusi
Perancis. Konstitusi dan pengadaan lembaga-lembaga negara, kedaulatan rakyat
harus dijamin, dan rakyat berhak untuk berontak terhadap pemerintahan
despotis yang tidak mengakui kedaulatannya: "bila pemerintah
melanggar hak-hak rakyat, maka pemberontakan adalah bagi rakyat dan
merupakan bagian dari rakyat. Kedaulatan merupakan hak rakyat yang paling suci
dan merupakan kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan"13)
Dasar utama dari doktrin sosialis adalah
pemikiran bahwa, kedaulatan rakyat telah dilanggar apabila hubungan sosial
mengakibatkan timbulnya inegalite (ketimpangan) dan terpecahnya masyarakat
menjadi pemilik dan proletar, serta menempatkan kaum proletar di bawah dominasi
pemilik; sedang Revolusi Perancis l789 yang memproklamirkan "kemerdekaan,
persamaan, persaudaraan" tidak menghendaki digantinya dominasi aristokrasi
menjadi dominasi para pemilik besar, golongan sosialis ingin membebaskan rakyat
seluruhnya.
Perubahan yang tampil di Eropa pada awal abad
XIX dan berbagai tuntutan yang ditimbulkannya, merupakan akibat gelombang besar
gerakan revolusioner l848, yang melanda seluruh Eropa, serta menimbulkan
gerakan pembebasan nasional di beberapa negara. (Hongaria misalnya), gerakan
republiken (di Perancis, Febuari l848), pemberontakan kaum buruh (di Paris,
Juni l848). Tepat seratus tahun kemudian, gerakan revolusioner yang cukup
kompleks dan berbeda-beda berkembang di Asia, gerakan-gerakan kemerdekaan
nasional di negara-negara yang masih dijajah atau gerakan demokratis anti
feodalisme atau anti kapitalisme di negeri-negeri yang sudah merdeka. Beberapa
penulis mencoba meyakinkan bahwa berbagai revolusi di Asia tersebut
"dipimpin" oleh komandan yang sama, Uni Soviet; tapi tak seorangpun
yang menyebut "komandan" dari revolusi Eropa l848.
Di Indonesia, sekitar tahun l930, terdapat dua
aliran besar dalam gerakan nasional. Di satu pihak di sekitar Sutomo (pendiri
BU) di Surabaya dan M.H Thamrin di Jakarta, aliran yang menerima
lembaga-lembaga yang didirikan Belanda, sambil mencoba menambah jumlah orang Indonesia
di Lembaga tersebut dan mencoba mengarahkan sistem administratif dari dalam
sistem itu sendiri. Di lain pihak, PNI dan Serekat Islam yang
mengikuti Partai Kongres India, menolak segala kerjasama dengan pemerintahan
kolonial; aliran inilah, yang terutama terdiri dari orang-orang laique—bukan
dari kalangan agama—yang akan menyebut dirinya sebagai "gerakan nasional
kiri." Tentu saja, berbagai organisasi bawah tanah yang ilegal, termasuk
dalam aliran ini.
Golongan kiri legal tidak hanya berbeda dalam
sikapnya terhadap pemerintah; PNI—setelah bubarnya—dua partai yang saling
mengaku sebagai pewarisnya, Partindo (Sukarno, Sartono, Amir Sjarifudin) dan
Pendidikan Nasional Indonesia (Hatta, Sjahrir), mengembangkan program yang
diilhami golongan sosialis; "Marhaen", sebagai pengganti
"buruh" dalam teks komunis, harus mampu mengatasi masalah hubungan
klas/massa seperti yang dihadapi PKI, paling tidak dalam tingkat
konsepnya; "marhaen" adalah nama yang diberikan kepada seluruh
orang Indonesia yang tidak punya kekuatan, buruh atau bukan.
"Marhaenisme" digunakan sebagai definisi dari "Sosialisme ala
Indonesia."
Mulai tahun l935, golongan kiri legal tersebut
dihadapkan kepada masalah yang akan merubah mereka. Pertama karena adanya
ancaman yang makin besar terhadap legalitasnya; suatu tekanan yang tiada
berhenti dalam segala bentuknya dilakukan jaksa penuntut umum dan birokrasi
polisi yang kekuasaan penuhnya menjengkelkan semua pendatang asing, bahkan
terhadap para partisan penuh sistem kolonial, seperti Profesor Prancis G.H
Bousquet dari Universitas Aljazair14) Dan Partindo serta Pendidikan
praktis tidak dapat bergerak sama sekali. Selain adanya ancaman dari dalam
negeri, ekspansi imperialisme Jepang di Asia Timur dan model diktaktur militer
yang diwakilinya juga dianggap sebagai ancaman dari luar negeri. Tanbahan lagi
Sutomo dengan partai baru yang dipimpinya, Parindra, secara jelas mendukung
Jepang dengan tendensi otoriter dan dominatornya. Melemahnya partai-partai kiri
tersebut menyebabkan Parindra, partai kanan, menjadi kelompok utama adalam
gerakan nasional.
Menghadapi tiga serangan golongan kanan dan
ekstrim kanan, Jepang, Belanda, Indonesia, golongan kiri akhirnya merubah sama
sekali taktiknya dan menanggalkan politik non-koperasi yang semula merupakan
ciri mereka. Golongan kiri akhirnya bergabung dalam organisasi baru Gerindo,
yang dibentuk bulan Mei l937, dengan diilhami oleh "Front Populer",
aliansi golongan kiri yang sebelumnya mencapai kekuasaan di Spanyol dan
Prancis. Berbeda dengan Front Populer, Gerindo bukanlah aliansi
partai-partai independen, melainkan pengelompokan kembali anggota partai-partai
kiri seperti Partindo, yang memutuskan bubar atau kelompok yang mewakili partai
bawah tanah PKI dan PARI. Para pemimpin utamanya adalah Amir Sjarifudin dan A.K
Gani.
Tujuan dari Gerindo adalah mempersatukan seluruh
rakyat Indonesia tanpa memandang asal daerahnya, guna menuntut demokratisasi
lembaga-lembaga dan dibentuknya Dewan Perwakilan yang sesungguhnya dari
pemerintahan Belanda. Dalam rangka tuntutan Demokratisasi tersebut
Gerindo mengakui lembaga-lembaga kolonial. Tapi hal itu dituntut juga
oleh Parindra. Yang membedakan Gerindo dari Parindra adalah, konsepsinya
yang anti rasis dalam kebangsaan dan nasion: orang Indonesia manapun, dari
rakyat Indonesia, yang memilih menjadi orang Indonesia, tindakan ini merupakan
suatu keputusan politik, bukan hak dari kelahiran atau lamanya
nenek-moyang tinggal di Indonesia. Perbedaan yang lain dengan Parindra
adalah tekananya pada kerakyatan sebagai kedaulatan dan pada
"hak-hak kaum susah." Terakhir adalah tawarannya kepada seluruh
kekuatan politik di Indonesia, termasuk Belanda, untuk membentuk Front Bersama
menghadapi imperialisme Jepang. Fasis dan militeristis; yang terakhir ini tidak
akan bisa dipahami secara baik, sebagaimana nampak pada lemahnya perlawanan
ketika Jepang menduduki Indonesia.
Tapi di samping golongan "kiri legal"
tersebut, adakah, dalam ilegalitas, kelanjutan dari PKI? Bila ia tidak ada di
penjara atau di dalam kamp-kamp di Nusakambangan dan Irian, di Digul, di
manakah golongan Komunis Indonesia? Masih adakah mereka? Masihkah mereka
melakukan sesuatu? Polisi politik Belanda secara periodik berhasil membongkar
jaringan PKI, tapi ini tidak berarti bahwa jaringan-jaringan itu betul-betul
ada. Sebuah dokumen PKI menyatakan:
"Sesudah kejadian pemberontakan tahun
l926-l927 ini, kaum Komunis Indonesia boleh dikatakan putus sama sekali
hubungannya yang teratur dengan luar negeri. Partai tidak mendpat didikan yang
teratur mengenai pekerjaanya dan tidak mendapat teori tentang perjuangan
revolusioner. Kedatangan kawan Musso secara illegal dari luar negri dalam
tahun 1935 membantu kaum komunis Indonesia menyusun organisasi illegal dan
menentukan politik partai dalam perjuangan melawan fasisme (...) Walaupun tidak
lama sesudah kawan Musso kembali keluar negri diadakan penangkapan terhadap
pemimpin-pemimpin dan pengikut-pengikut PKI. PKI masih terus
bisa menjalankan aktivitetnya di bawah tanah hingga jatuhnya kekuasaan
fasis Jepang"15)
Analisa tersebut agaknya menyimpulkan bahwa,
pada saat Komunis Indonesia tidak dapat mempertahankan hubungannya dengan dunia
luar, sebelum tahun l935, dan sangat terpecah dalam menentukan sikapnya di masa
datang: ini terlihat bahkan dalam tingkatan militan yang dideportasi ke Irian,
yang terpecah menjadi berbagai kelompok yang bermusuhan. Beberapa diantaranya
barangkali mencoba mengikuti PARI, saat partai tersebut mulai dikenal, secara
gelap tentu saja, di dalam negeri; bagi mereka, agaknya, PARI tidak lain dari
PKI itu sendiri. Yang lainnya masuk ke dalam PNI, yang telah menyatakan bahwa
partai itu akan melanjutkan kerja yang telah dimulai PKI; bagi mereka,
rintangan ideologis pada saat mereka masuk ke dalam partai non komunis, tidak
terlalu besar dibanding halangan nyata dalam mengorganisasi PKI sebagai aparat
klandestin; air akan menyeret lumpur yang dilaluinnya, air akan memenuhi
jambangan yang ditemuinya. Bagaimanapun, antara PKI, PARI, PNI, berada pada
landasan yang sama; para ahli teori boleh mengarahknnya pada "nasionalisme"
atau "internasionalisme" atau "dwitunggal", tapi landasan
tersebut, yang menimbulkan pemberontakan pada berbagai lapisan rakyat melawan
dominasi kolonial, menciptakan terutama suatu aspirasi yang berciri khas, yang
diungkapkan serentak oleh seluruh partai rakyat Indonesia, oleh seluruh
golongan kiri Indonesia, betapapun konflik teori memisahkannya.
Tapi untuk kelompok Komunis Indonesia di eropa,
yang baru mengetahui bahwa PARI-nya Tan Malaka telah menyatakan
independensinya dari Internationale Communiste, PARI tidak boleh di
anggap sebagai PKI bentuk baru; jadi harus dicegah jangan sampai golongan Komunis
Indonesia bergabung di sekitar Tan Malaka, dan untuk itu partai harus dibangun
kembali sambil melakukan hubungan dengan Partai Komunis lain di seluruh dunia.
Misi itulah yang pada tahun l935 dipercayakan kepada Musso, anggota pimpinan
PKI yang berada di Eropa pada saat meletusnya peristiwa l926-l927, dan yang
menggantikan Semaun di Belanda; misi tersebut kemudian mendapat perlawanan dari
para pendukung Tan Malaka, di luar negeri dan juga di Indonesia, yang
menyatakan bahwa PKI sudah mati dan bahwa mereka adalah ahli warisnya.
Bagi Musso, PKI tetap ada dan PARI
hanyalah merampas. Kejaksaan Belanda tidak ambil pusing terhadap perbedaan itu,
baginya semua itu adalah "Komunis," "ekstrimis yang
berbahaya" dan ia membuang mereka ke Irian tanpa diadili, siapa saja yang
berhasil ditangkap. Di antara mereka terdapat orang-orang yang menyusun
sel-sel PKI yang dibentuk Musso di Surabaya awal tahun l936, di
lingkungan sindikalis Djokosudjono. Dalam kamp tahanan di Irian,
anggota-anggota PARI menjulukinya "PKI muda" atau "baru."
Ketika para tahanan itu dipindah ke Australia dan anggota-anggota PKI berkat
bantuan kaum Komunis Australia, menerbitkan suatu buletin gelap, mereka
menulis:
"Lawan selalu mencoba memecah pergerakan
kita. Cara memecahnya dengan bermacam-macam jalan. Antara lain adalah
sebutan PKI Lama dan PKI baru (...) Bagi kita kawan sefaham, PKI hanya satu.
Kita hanya mengenal satu partai komunis yaitu PKI. Tidak ada lama tidak
baru..."16)
Itulah tujuan Musso: menjamin kontinuitas PKI,
mempertahankan namanya, kehidupan organisasinya, menjamin kedudukan PKI dalam
sejarah Indonesia, dan membuat PKI sebagai pionir dalam sejarah
Indonesia. Dengan cara yang sama Aidit tahun l950 mencoba menunjukan bahwa
pemuda-pemuda Komunis memainkan peranan penting di Jakarta dalam periode
Mei-September l945, tanpa perlu membuktikan dan menyatakan di mana-mana bahwa
mereka itu adalah Komunis. 17)
Bila Musso pada tahun l948, tiga tahun setelah
l7 Agustus l948, dan Aidit tahun l950 (Musso telah terbunuh dalam peristiwa
Madiun) mencoba menunjukan bahwa sejarah Komunis adalah sejarah yang
gilang-gemilang, adalah karena PKI dalam tiga tahun pertama kemerdekaan itu
hampir tidak pernah terang-terangan membiarkan golongan kiri
mengidentifikasikan dirinya kepada Partai Sosialis, partai yang pendirinya
adalah Amir Sjarifudin, dia lagi, sekeluarnya dari penjara dimana Jepang telah
menjebloskannya ke sana sejak Febuari l943.
Bagaimana mungkin Partai Sosialis dapat
membangun supremasinya di tengah golongan kiri Indonesia, mengapa hal itu tidak
pernah dipertanyakan oleh PKI? Banyak kemungkinan yang bisa dijelaskan, sambil
menanti dibongkarnya arsip, bila masih ada. Yang paling mendekati adalah yang
menganggap klandestinitas tidak akan memungkinkan PKI untuk bangkit kembali
secara nyata dan perlahan-lahan, dan bahwa perpecahan setelah kegagalan
l926-l927 tidak bisa diatasi, atau telah diganti dengan yang lain, yang juga
tak berdaya. Secara umum, militan Komunis lama dan baru, tahun l945 tidak cukup
merasa yakin bahwa tumbuhnya PKI yang berpengaruh dan dinamis telah dapat
menyumbangkan kepentingan yang positif; bahkan, pikir mereka, kehadiran PKI
justru hanya menimbulkan kesulitan dalam hubungan dengan sekutu
Inggris-Australia, yang baru mendarat di Indonesia pada saat berdirinya
partai-partai politik. Partai Sosialis, yang melanjutkan fungsi
Gerindo dalam tugasnya membangun suatu Indonesia yang independen dan
Demokratis, berhasil dalam beberapa waktu menggabungkan aliran besar yang
berasal dari Gerindo dan bekas anggota pendidikan, yang memberikan kepada
pemerintahan Sjahrir, dengan Amir sebagai menteri pertahanannya, suatu sarana
yang berharga yakni mobilisasi rakyat.
Beberapa pengacara yang pernah menjadi anggota
biro eksekutif Gerindo pada masa penyerbuan Jepang dan yang dididik dalam
bidang hukum di sindikat, November l945 mencoba, didorong oleh bekas peserta
pemberontakan l926, memproklamirkan kelahiran baru PKI secara legal. Mereka
terbentur pada hegemoni Partai Sosialis, pada aliansi Sjahrir-Amir Sjarifudin,
yang berarti pada pemerintah, dan bulan Maret l946 harus menyerahkan
pimpinan PKI mereka kepada bekas-bekas tahanan di kamp konsentrasi Irian,
yang kembali dari Australia dan yang mau menerima hegemoni Partai Sosialis.
Tetapi agaknya diperlukan suatu krisis gawat seperti jatuhnya kabinet Amir
(yang menggantikan Sjahrir) untuk dapat mencuatkan kembali masalah peranan khas
PKI dalam perkembangan strategi global golongan kiri.
Pada saat itulah, Agustus l948, ketika Sjahrir
dan bekas anggota pendidikan ke luar dari Partai Sosialis untuk membentuk
Partai Sosialis Indonesia dan mendukung pemerintahan Hatta yang menggantikan
Amir, Musso berhasil kembali dari Eropa untuk meyakinkan Partai Sosialis agar
bergabung dengan PKI. Dengan maksud mengarahkan politik partai agar tidak lagi
berdasar pada kompromi, tapi pada perjuangan melawan penyerbuan Belanda, guna
menjamin kemerdekaan negara dan untuk memberikan dukungan kepada kaum buruh dan
tani, khususnya untuk merealisasikan reformasi agraria.
Tumbangnya persatuan golongan kiri, sayap kiri,
aliansi Hatta dan Sjahrir, yakni dari aliran Pendidikan Nasional
Indonesia sebelum perang, dengan Masjumi, telah menimbulkan situasi yang
sulit dikembalikan lagi. Pertentangan militer yang melahirkan peristiwa Madiun,
bahkan telah membuat situasi tersebut tetap bertahan sampai lama. Bekas anggota
PARI yang, setelah mendukung Hatta, bulan November l948, menganggap PKI sudah
hancur, lalu mendirikan Partai Murba yang meniupkan slogan: "Sayap kiri,
Hara Kiri," Golongan kiri, dari segala segi, nampak berada dalam kondisi
yang tidak menguntungkan.
Paradoknya adalah, ketika ada beberapa menteri
dan beberapa pejabat tinggi Komunis dalam periode l962-l965, fase kedua dari
Demokrasi Terpimpin, tapi bukan pada saat itulah PKI memiliki kekuatan besar
dalam aksinya. Partai massa, untuk pertama kali dalam sejarahnya, partai yang
dalam pemilu l955 dan l957 menunjukkan kenaikan yang terus menerus, tapi
setelah diberlakukannya keadaan darurat perang (SOB) Maret l957, berada dalam
situasi seperti kelompok demonstran yang di kelilingi petugas keamanan.
Kadangkala para petugas keamanan tersebut cukup mengamati tanpa turun tangan,
kandang-kadang terjadi diskusi dan bisa juga terjadi insiden, para demonstran
berang dan para petugas keamanan menembak.
Tanggal 8 Juli l960, Harian Rakyat, surat kabar
PKI, menulis suatu editorial panjang yang menilai hasil setahun Kabinet Kerja,
yakni setahun Demokrasi Terpimpin. Suatu penilaian yang kritis. Koran itu
disita, dilarang terbit beberapa minggu (penerbitan PKI lainnya tetap dilarang
selama tiga tahun), para pemimpinnya ditangkap, PKI dilarang di beberapa
propinsi (Tiga Selatan, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Sulawesi
Selatan). Periode di mana didiskusikan Undang-Undang tentang partai politik dan
beberapa kalangan mendesak agar PKI dilarang karena mengancam dan kelak
menyerang Masjumi dan PSI. Pada akhir tahun l960, Sukarno datang ke sidang umum
PBB dengan DN Aidit di sebelah kiri dan A.H Nasution di sebelah kananya.
Khawatir bila Demokrasi Terpimpin menjadi suatu sistem pemerintahan yang terlalu
bergantung kepada militer, Sukarno kemudian mengerem tindakan-tindakanya yang
ditujukan untuk menekan PKI.Dan PKI tidak lagi mengeritik pemerintah.
Tenunan politik yang robek pada tahun l948 tidak
dapat ditenun kembali. Dwitunggal Sukarno-Hatta, jauh dari
persekutuan yang saling melengkapi, saling kait berkait, sejak awal karir
politik mereka, seringkali bertentangan; karena itulah agaknya mengapa Jepang
mempersatukannya dalam periode l945-l956, terlihat betapa peranan politik Hatta
melampaui peranan Sukarno, khususnya dalam periode dimana Hatta menjabat Wakil
Presiden dan Perdana Menteri, saat di mana terjadi peristiwa Madiun.
Retaknya Dwitunggal, setelah pemilu, pengunduran diri Hatta, Desember l955,
memberi pertanda tentang retaknya suatu sistem politik, dengan timbulnya
pemberontakan yang melahirkan proklamasi PRRI, pemerintahan yang terdiri dari
separuh sipil, separuh militer. Dengan diumumkannya SOB, Sukarno menggunakan
angkatan bersenjata, yang tepecah akibat peristiwa PRRI, untuk menjahit kembali
tenunan politik tersebut. Berbagai institusi baru yang disiapkan dan akan
membentuk Demokrasi Terpimpin, diukir menurut model angkatan bersenjata. Pada
saat yang sama angkatan bersenjata menjadi kutub atraksi dari seluruh kekuatan
yang melihatnya sebagai perisai yang ampuh untuk melawan kekuatan PKI.
Nasution tampil seperti menggantikan Hatta dalam
bentuk semacam dwitunggal Sukarno-Nasution. Tapi keseimbangan yang ditampilkan
oleh gambaran triumvirat Sukarno-Nasution-Aidit, peran serta angakatan bersenjata
dalam pemerintahan dan seluruh eselon aparatus negara disatu pihak, dan aliansi
NASAKOM di lain pihak (tapi perjuangan antara komposan NASAKOM sendiri
menggugurkan efek dari persekutuan tersebut), kemudian meletus pada tahun l965.
Namun Angkatan Bersenjata (Tapi Nasution tidak lagi menjadi panglima) tetap
menjadi penguasa lapangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar